Matahari di ufuk barat perlahan mulai meredup, adikku belum kembali juga. Aku khawatir, karena terkadang si kecil yang masih polos itu bisa melihat "mereka". Sekali, dua kali, aku masih menganggapnya hal biasa. Ya, seperti yang kita tahu, kadang anak-anak mempunyai teman imajinasinya sendiri. Tapi tidak begitu, dari hari kehari, hal-hal yang dialami adikku semakin membuatku semakin merinding saja.
Hujan semakin deras, langit semakin gelap. Laki-laki itu masih saja mengikutinya. Dengah sebilah pisau daging berlumuran darah ditangannya, laki-laki itu mengejar tanpa ampun. Ia tak tahu harus bersembunyi dimana. Yang ia lakukan hanya berlari dan terus menghindar. Kemanapun, sejauh apapun, selama masih bisa berlari, asalkan tak bertemu dengan laki-laki itu.